Inilah Sisi Menakutkan Ilmu Pengetahuan

Hundreds Debate The Merits Of Reading Resources In Cody | Wyoming Public Media wyomingpublicmedia.org800 × 533Search by image Hundreds of parents, students, and teachers showed up for a contentious school board meeting about reading curriculum in Cody Tuesday night. Cody teachers,
Hundreds Debate The Merits Of Reading Resources In Cody | Wyoming Public Media wyomingpublicmedia.org800 × 533Search by image Hundreds of parents, students, and teachers showed up for a contentious school board meeting about reading curriculum in Cody Tuesday night. Cody teachers,

Pernah mendengar istilah, ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina?’ kita semua pernah mendengarnya sejak duduk dibangku sekolah dasar. Bahkan sampai sekarang, kata- kata itu masih terngiang- ngiang ditelinga. Namun nyatanya, ilmu pengetahuan tidak selalu memberikan kita harapan baru untuk melanjutkan hidup. Karena tanpa disadari, ilmu pengetahuan terkadang adalah sesuatu yang sangat menakutkan bagi sebagian orang.  Bahkan beberapa diantara mereka lebih memilih untuk tidak tahu apa- apa. Hal terpenting didunia ini adalah ilmu pengetahuan. Dari sana kemudian akan muncul ide dan gagasan yang mampu merubah apa yang sudah ada. Baik teknologi, fashion, cara berpikir, ataupun peradaban. Bahkan dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, banyak opini yang kemudian menjadi sebuah acuan dalam membentuk sebuah fakta baru untuk merubah

Postcomended   1500 Mancingmania Meriahkan Widi International Fishing Tounament 2017

persepsi yang sudah ada. Tapi sadarkah kita, ilmu pengetahuan hanyalah sebuah sarana? Tidak ada yang menyangka bahwa ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana. Sarana untuk mencapai sesuatu yang lebih besar dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Dia adalah kebenaran. Sesuatu yang dicari semua orang yang ada didunia ini. Tidak peduli seperti apa rupanya, latar belakangnya, suku, atau aliran kepercayaan, semua dari kita mencari kebenaran. Lalu dimana sisi menakutkannya ilmu pengetahuan? Ada dua macam manusia didunia ini. Mereka yang pesimis dan mereka yang optimis. Dan cara mengetahui siapa masuk golongan mana, adalah dengan ilmu pengetahuan. Seperti misalnya ketika kita ingin mememulai sebuah bisnis. Orang yang masih awam tentu akan mencari informasi sebanyak mungkin tentang bisnis yang ingin dimulainya. Seperti misalnya mencari tahu tentang peluang, asset, hitung- hitungan laba dan rugi, cara mencari pegawai, bahkan tantangan lainnya. Banyaknya informasi yang didapatkan inilah yang dapat kita jadikan sebagai tolak ukur mengetahui sifat seseorang. Bagi Si Optimis, tentu banyaknya informasi yang didapatkan akan menjadi batu loncatan baginya. Semuanya menjadi seperti peluru cadangan bagi dia yang ingin pergi ke medan tempur. Mentalnya semakin terbentuk dan fisiknya semakin mantap. Tidak ada lagi yang bisa menghentikan dia. Tapi ini berbeda dengan Si Pesimis. Semakin banyak informasi yang dia dapatkan justeru akan membuatnya semakin berat untuk melangkah. Informasi yang didapatkannya seakan- akan menjadi gunung yang membebaninya. Dia tidak siap menerima kenyataan bahwa apa yang diinginkannya tidaklah semudah apa yang dikira sebelumnya hingga akhirnya dia berhenti tanpa melakukan apa- apa lagi.

Postcomended   400 Wisman Kapal Pesiar “Sea Princes” Mampir ke Kota Semarang